Tak Bisa Dibantah, Ini 2 Cara Paling Ampuh untuk Mahir Berbahasa Inggris

Banyak orang berupaya untuk bisa menguasai bahasa Inggris dengan berbagai cara dan upaya bahkan biaya yang tak sedikit. Bukan itu saja, berbagai metode ditawarkan penyelenggara kursus bahasa Inggris, namun toh tetap saja belum bisa memberikan hasil yang memuaskan.  




Banyak kepentingan sehingga mendorong banyak orang untuk menguasai bahasa satu ini. Bahasa Inggris saat ini menjadi salah satu bahasa yang wajib dikuasai oleh setiap orang karena menjadi bahasa komunikasi di luar negeri, pekerjaan, bisnis, hingga kuliah. Bahkan, bagi yang ingin mendapat beasiswa diharuskan melampirkan sertifikat yang menunjukkan kemampuan dalam berbahasa Inggris.

Itulah mengapa lembaga kursus bahasa Inggris mulai menjamur di Indonesia. Dipastikan, bagi mereka yang ingin fasih dalam berbahasa Inggris lebih banyak akan menempuh jalur kursus di lembaga tersebut.

Sebetulnya, selain kursus, ada dua cara lain agar fasih dalam berbicara menggunakan bahasa Inggris. Konten yang diunggah pengelola akun Instagram @englishvit, Minggu (5/1/2020), mengungkapkannya.

Apa saja cara itu? Cara pertama adalah menikah dengan bule yang fasih atau native speaker bahasa Inggris. Cara kedua adalah berpergian ke luar negeri khususnya Inggris atau Amerika Serikat.

Menikah dengan bule menjadi salah satu cara agar fasih berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Ini dikarenakan banyak survei membuktikan semakin sering berinteraksi dengan suatu bahasa, peluang menguasai bahasa tersebut berkali-kali lipat lebih besar.

Banyak warga Indonesia yang menikah dengan bule, beberapa di antaranya adalah wanita berdarah Maluku dan Manado, Pita Henderson, yang menikah dengan Tentara Air Force Amerika Serikat, Travis. Kehidupan mereka bisa dinikmati dalam kanal Youtube Pita’s Life.

Selain Pita, ada juga wanita asal Raja Ampat, Papua Barat, Trisna, yang menikah dengan pria asal Jerman bernama Paul. Uniknya, Trisna melalui kanal Youtube miliknya, Keluarga Bahagia di Jerman, mengaku awalnya sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris.

Bahkan untuk berkomunikasi dengan Paul, dia sempat meminta bantuan sang kakak yang mengerti bahasa Inggris. Namun, lama-kelamaan dia terbiasa dan fasih dalam menggunakan bahasa Inggris.

Cara kedua, berpergian ke luar negeri khususnya Inggris atau Amerika Serikat, bisa menjadi alternatif. Cara ini tentu menjadi langkah yang efektif dilakukan lantaran mau tidak mau mengharuskan untuk berkomunikasi dengan warga negara asing (WNA) dengan bahasa Inggris.

Ada suatu cerita dalam buku yang ditulis dosen Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali berjudul 30 Paspor: The Peacekeeper’s Journey yang menugaskan mahasiswa untuk bepergian ke luar negeri seorang diri.

Bahkan, mahasiswa dilarang untuk bepergian ke negara-negara yang masih menggunakan bahasa Melayu untuk berkomunikasi seperti Malaysia. Mahasiswa dituntut untuk mencari biaya sendiri untuk melancong ke luar negeri. Alhasil, para mahasiswa ini mampu melakukan manajemen dirinya sendiri termasuk dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Bagaimana dengan Anda, tertarik untuk mencoba?


 

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates